Jakarta dan Monas

Jakarta yang merupakan jantung kehidupan Republik ini, yang tak kenal lelah berdenyut sepanjang hari, meski kondisi udaranya yang semakin panas dan berpolusi, kemacetan lalu lintasnya yang semakin “aduhai”, disertai kesemrawutan yang “seksi”, membuat Jakarta mempunyai ciri yang khas sebagai sebuah kota.

Sebuah kota sekelas Jakarta pun harus memiliki sebuah simbol, perlambang, landmark, atau monumen yang megah, untuk menggambarkan kejayaan masa lalu, rasa bersyukur atas situasi saat ini, dan sekaligus sebagai perlambang harapan di masa datang. Simbol, perlambang, landmark, atau monumen yang dimaksudkan tersebut, tercurahkan dari sebuah bangunan kebanggaan orang Jakarta, bahkan menjadi kebanggaan nasional, yaitu Monumen Nasional, yang biasa disebut Monas.

Monas dibangun oleh Presiden Republik Indonesia pertama yaitu Bung Karno, untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, serta di puncak Monas ini dimahkotai lidah api, yang dilapisi lembaran emas untuk melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang menyala-nyala sepanjang masa.

Monas yang dikelilingi lapangan terbuka luas tersebut, telah menjadi saksi berbagai peristiwa bangsa ini, dan Monas pun seperti memiliki ikatan psikologis dengan rakyat beserta beragam acara dan pesta rakyat yang pernah digelar, dan sore hari itu, The LocaGuys menyusuri Lapangan Medan Merdeka yang mengelilingi Monas dan bergabung dengan keriuhan pesta rakyat tersebut, untuk merekam fragmen-fragmen kehidupan, serta merasakan denyut kehidupan, yang telah menjadi bagian dari jantung kehidupan Republik ini. [Teks: Percha]


Ardika Percha

This slideshow requires JavaScript.


Faisal Effendi

This slideshow requires JavaScript.


Sumarno

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Bogor


The LocaGuys pada kesempatan kali ini mengunjungi kota Bogor, mencoba merasakan denyut nadi kehidupan Buitenzorg, nama lampau dari kota tersebut. The LocaGuys mendapati berbagai aktivitas yang dilakukan warga Bogor dengan menyusuri kawasan sekitar stasiun Bogor, Jembatan Merah, dan Pasar Anyar.

Dari deretan bangunan toko berarsitektur masa lampau yang mencoba berkawan dengan toko modern, lalu ditambah banyaknya pedagang dan penjaja makanan khas Bogor, suasana museum kecil yang sepertinya terlupakan dan berharap ada pengunjung baru yang datang, hingga (calon) pembeli dan penjual batu akik yang saling akrab bercengkrama dan tak bosan mengusap batunya, lalu tidak lupa aktivitas pasar yang nan ramai, tidak hanya dipenuhi manusia, namun mahluk lainnya… membuat perjalanan kali ini menjadi salah satu fragmen memori tak terlupakan dari The LocaGuys. [Teks: Percha]


 Faisal Effendi

This slideshow requires JavaScript.


Ardika Percha 

This slideshow requires JavaScript.


Sumarno

This slideshow requires JavaScript.